BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
Bertolak
pada kondisi di Kepulauan Maluku Tenggara Barat (MTB) yang pada dasarnya adalah suatu Propinsi
yang terdiri dari kepulauan-kepulauan yang terbentang luas dan terpisah antara
satu dengan yang lain namun disatukan oleh lautan, maka sudah tentu disetiap
daerah yang menjadi bagian dari kepulauan Maluku Tenggara Barat (MTB) adalah daerah
yang dikenal dengan pelabuhannya yang merupakan salah satu sarana utama untuk membangun hubungan dengan daerah lain melalui jalur pelayaran atau jalur laut, khususnya pada daerah Maluku Tenggara Barat (MTB) jika mau ke daerah lain harus melalui jalur pelayaran.
yang dikenal dengan pelabuhannya yang merupakan salah satu sarana utama untuk membangun hubungan dengan daerah lain melalui jalur pelayaran atau jalur laut, khususnya pada daerah Maluku Tenggara Barat (MTB) jika mau ke daerah lain harus melalui jalur pelayaran.
Dalam pengaturan
arus masuk dan keluar bagi para pengguna jasa pelabuhan yang dalam hal ini
adalah kendaraan darat, rata-rata masih menggunakan palang pintu yang
dioperasikan secara manual. Sehingga harus membutuhkan tenaga manusia untuk mengoperasikannya.
Pengoperasian palang pintu secara manual pada kenyataannya sering membawa
dampak yang kurang baik bagi petugas pelabuhan itu sendiri, karena tanpa
memandang cuaca,
ia harus selalu siap untuk mengoperasikan palang pintu tersebut. Sehingga seringkali bisa membahayakan kesehatannya sendiri. Selain berdampak pada kesehatannya juga pada pengoperasiannya misalnya, jika terjadi kesalahan dalam mengoperasikannya atau palang pintu tiba-tiba rusak dan pada saat itu ada kendaraan yang sedang lewat sehingga jatuh menimpa kendaraan tersebut otomatis akan mengakibatkan kerusakan bahkan kematian bagi pengendara kendaraan yang tertimpa palang pintu tersebut, juga mengakibatkan kerugian bagi petugas itu sendiri maupun pengelola pelabuhan dalam hal ini adalah PELNI yang bertanggung jawab atas pelabuhan. Berdampak juga pada pemanipulasian data dari operator yang tidak efisien yaitu pada saat pembayaran karcis dari setiap kendaraan yang masuk ke area pelabuhan. Seringkali adanya ketidak jujuran dari petugas akibatnya timbul pemanipulasian misalnya kendaraan yang masuk 100 tapi yang dilaporkan 60 atau 85 yang masuk sehingga uang sisanya dimasukan ke kantongnya sendiri.
ia harus selalu siap untuk mengoperasikan palang pintu tersebut. Sehingga seringkali bisa membahayakan kesehatannya sendiri. Selain berdampak pada kesehatannya juga pada pengoperasiannya misalnya, jika terjadi kesalahan dalam mengoperasikannya atau palang pintu tiba-tiba rusak dan pada saat itu ada kendaraan yang sedang lewat sehingga jatuh menimpa kendaraan tersebut otomatis akan mengakibatkan kerusakan bahkan kematian bagi pengendara kendaraan yang tertimpa palang pintu tersebut, juga mengakibatkan kerugian bagi petugas itu sendiri maupun pengelola pelabuhan dalam hal ini adalah PELNI yang bertanggung jawab atas pelabuhan. Berdampak juga pada pemanipulasian data dari operator yang tidak efisien yaitu pada saat pembayaran karcis dari setiap kendaraan yang masuk ke area pelabuhan. Seringkali adanya ketidak jujuran dari petugas akibatnya timbul pemanipulasian misalnya kendaraan yang masuk 100 tapi yang dilaporkan 60 atau 85 yang masuk sehingga uang sisanya dimasukan ke kantongnya sendiri.
Seiring
dengan berkembangnya zaman dan semakin pesatnya kemajuan teknologi,
sehingga mendukung terciptanya
peralatan-peralatan yang sangat memberikan
kontribusi bagi kehidupan manusia pada saat ini.
Peralatan-peralatan tersebut membuat
pekerjaan manusia semakin mudah dan ringan serta lebih efisien. Sehingga untuk
mencapai tingkat keefisienan dalam bekerja, maka harus mengoptimalkan
peralatan-peralatan yang bekerja dengan menggunakan sistem otomatisasi yang
tentu sangat menunjang kepada efisiensi kerja dari pada manusia itu sendiri.
Apabila para penyedia sarana pelabuhan masih bekerja menggunakan sistem manual,
maka tentu akan sangat berpengaruh
terhadap kelancaran dari pada proses kerja di pelabuhan tersebut. Hal
ini disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:
a.
Pengaturan
kendaraan yang kurang efisien.
b.
Kontrol data
kendaraan yang tidak efisien.
Berdasarkan
uraian di atas, perlunya dibuat suatu alat yang diharapkan nanti dapat membantu
proses kerja di pelabuhan dari yang awalnya masih menggunakan sistem manual
menjadi sistem otomatis dengan membuat RANCANG BANGUN KONTROL PALANG PINTU
OTOMATIS PELABUHAN BERBASIS MIKROCONTROLLER, untuk memudahkan dalam
pengelolaan, serta lebih efisien dalam proses pengontrolan kerja, data
pemasukan dan banyaknya kendaraan yang menggunakan jasa pelabuhan.
Sesuai
dengan masalah yang diuraikan di atas, maka permasalahan dapat dirumuskan
sebgai berikut :
Ø Bagaimana merancang kontrol palang pintu otomatis
berbasis mikrokontroler sehingga dapat mempermudah dalam pengontrolan arus
masuk dan keluar kendaraan secara
otomatis dalam area pelabuhan.
Batasan masalah dalam proposal ini adalah:
a)
Pusat
pengendalian sistem kerja dari peralatan ini yaitu IC Mikrokontroler AT89S52.
b)
Sensor yang
digunakan sebagai input pada mikrokontroler adalah berupa pemancar
(inframerah).
c)
Komponen
elektronika penggerak pintu portal yang menggunakan motor DC.
d)
Peraga seven
segment sebagai device penampil lokasi
e)
RFID reader
yang digunakan adalah ID-12.
f)
RFID card
yang digunakan adalah RFID card read only.
1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah merancang
alat kontrol otomatis palang pintu pelabuhan berbasis mikrokontroler untuk
membantu pekerjaan petugas pelabuhan yang awalnya manual menjadi otomatis.
Dapat memberikan manfaat bagi siapa saja, terutama
bagi para penyedia sarana pelabuhan dalam hal ini Dinas Perhubungan. Dan juga bagi para penyedia
lahan parkir seperti dikantor, pasar swalayan
dan lain sebagainya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar